Jumat, 01 Februari 2013

Catatan Tanpa Tanda

Saya mengherani diri saya, malam ini. Sesuatu yang tidak biasa bagi saya, setelah saya sadari, bahwa saya membelah malam ini tanpa sebuah jaket. Sungguh saya heran, apalagi ketika saya menyadari bahwa saya tidak kedinginan. Tak seperti biasa. Sekiranya saya akan mendapatkan sesuatu yang saya inginkan malam ini. Seharusnya saya akan tersenyum bangga malam ini. Setelah menemuinya, di jalan poros itu, saya berpamitan sembari memohon doanya untuk saya. Yeah, doa dia dan keinginan saya tidak terwujud.
Selanjutnya, saya menyandarkan diri di sebuah pos jaga yang temaram. Saya menunggu ponsel saya berdering, terserahlah tanda dari sesiapa. Saya menunggu, tapi ponsel saya tak berdering juga. Lalu dari kegelapan sana, muncul seekor anjing berbulu keemasan, menatap saya. Tapi saya merasa, tatapan itu justru tantangan. Maka saya lawan tatapan itu. Sialnya, anjing itu menjulurkan lidah seolah bertanda “You are a loser!”. Ha!, tak tahukah bahwa justru ialah pengecut yang berjalan ketakutan dengan lidahnya yang terjulur menjijikkan. Well, saya sepertinya mulai ngawur… Tapi disaat saya ingin serius dengan sebuah bacaan, di bawah temaram, seekor anjing lain muncul, bulunya hitam, menggonggong ke arah saya. Sial! Disinilah baru saya sadari kodrat saya: SAYA TAKUT ANJING! Lalu saya memutuskan untuk tidak menunggu, lalu mengambil kunci motor, lalu mengintip pintu rumah itu sekali lagi, lalu pergi… Rupanya di jalan yang sekiranya bernama pulang, hujan mulai gerimis…dan menderas.
Di atas motor, saya berpikir akan ke sebuah tempat entah kemana. Tapi rupanya saya (tetap saja) menuju rumah. Hujan terasa bersemangat, dan pandangan saya malam ini tidak bisa menjangkau lebih dari dua meter di arah depan sana. Barulah saya sadari (lagi), tanpa jaket saya tidak merasa kedinginan, meski saya kehujanan! Luar biasa benar malam ini bagi saya! Lucunya, saya tidak beranjak menancap gas lebih cepat dan justru menikmati hujan yang tidak dingin ini. Saya mencoba berpikir tentang apapun, termasuk kenapa saya tidak kedinginan.
Tapi, akhirnya pikiran saya bermuara pada satu: KITA. Bahwa benarlah kita tak melandasi senyum, belaian dan pelukan dengan sebenarnya cinta. Kita tak bisa (mau dan) saling memercayai, saling berbagi, seperti yang sepatutnya. Apakah sesungguhnya makna diri kita bagi kita? Ah, saya merasa ingin dihujani lagi malam ini. …………………………………. (Sampai sekarang, ponsel saya belum juga berdering. Saya tetap menunggu)

Jumat, 31 Agustus 2012

Atun no Haiku (1)



sore ini
sekelebat petir,
namamu

Rabu, 25 April 2012

Dengan mata, saya memeluk punggungnya

Baru kali ini saya memimpikannya. Saya juga tidak tahu kenapa. Padahal saya tidak ingin bermimpi tentang dia.

Saya pernah bermimpi tentang beberapa orang.

Orang pertama, saya sering memimpikannya. Wajahnya sangat jelas terlihat. Ya. Dia orang yang sering saya jumpai, sengaja atau tidak. Kami sangat dekat. Saya senang memimpikannya. Tapi saya harus bersedih karena saat ini dia tidak berada di dekat saya lagi. Bahkan saya sudah tidak pernah bertemu dengannya.

Orang kedua, saya memimpikannya dua kali. Padahal baru sekali kami berjumpa. Mimpi tentang orang ini adalah sesuatu yang luar biasa. Saya ketakutan karena mimpi itu. Hingga kemudian, membuat saya takut untuk bertemu dengannya. Saya berharap, tidak ada sesuatu yang mengharuskan saya untuk bertemu lagi dengan orang ini.

Nah, ini tentang orang yang baru saja ada dalam mimpi saya. Dalam mimpi itu, saya senang bertemu dengannya. Tapi entahlah, ada yang aneh. Saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Bahkan ketika orang ini berhadapan dengan saya. Yang terlihat jelas justru punggungnya. Saya masih ingin melihat dia, berbincang lebih lama. Tapi dia terlihat buru-buru pergi. Seperti biasa, ada sesuatuyang harus dia lakukan. Saya hanya bisa menatap punggungnya menjauh, dia dengan pakaian yang (mungkin) biasa dia kenakan.

Saya mencoba menafsirkan mimpi ini. Mungkin.

Pertama, bisa berarti, “Belum saatnya kau melihatku lebih lama. Aku harus pergi untuk sementara. Sampai kau menyelesaikan sesuatu yang harus kau selesaikan. Karena itu, tak perlu bersedih”

Atau bisa saja yang paling buruk, “Seberapa inginpun kau melihatku, memikirkanku, mengingatku, hal itu tidak akan terjadi…”


-mks.25april2012-