Entah kenapa saya memikirkan satu hal ini. Berbagai peristiwa beruntun, menyerupai bayangan-bayangan singkat, berkelebat di benak saya. Saya sedikit ketakutan.
Semoga ini hanya kekhawatiran saya saja. Saya tidak ingin ini benar-benar terjadi kelak.
Siapapun kamu, saya ingin mengatakan bahwa beginilah saya. Saya yang sangat suka bicara. Saya yang sulit menetapkan hati. Saya yang terlalu apa adanya. Saya yang selalu ingin menjadi diri saya sendiri. Semoga kamu bisa memahami saya.
Well, saya tidak bisa sendiri selamanya…
Sabtu, 21 April 2012
Senin, 16 April 2012
Mengubur mimpi dan… cinta
Ternyata begini rasanya.
Pagi tadi, saya mendapat SMS dari seorang Abang. Isinya tentang tersedianya lowongan pekerjaan bagi reporter atau camera person di salah satu stasiun televisi.
Jelas saja saya mupeng!
Ya. Saya sebenarnya sangat ingin memiliki perkerjaan sejenis itu. Saya suka dunia itu. Karena saya tidak suka jadi PN* yang notabene adalah pilihan sejuta ummat orang tua.
Tapi…
Saya tidak bisa mengikuti wawancara itu.
Pertama: saya harus fokus dulu untuk mengerjakan skripsi. Saya harus sarjana secepatnya. Melamar ke pekerjaan itu pasti akan membuat “nama lengkap” saya tertunda.
Kedua: karena di stasiun teve itu ada seseorang yang sekarang saya hindari. Saya tidak ingin semakin dekat dengannya. Saya tidak ingin membuat hati saya ternoda dan hati dia terluka.
Ketiga: saya tak boleh bekerja dan menjadi bagian dalam stasiun teve itu. Sebisa mungkin. Alasan ini, cukup rahasia bagi saya.
Keempat: bekerja disana, bisa saja membuat saya semakin dekat dengannya (orang yang beberapa waktu ini mengganggu hati saya). Tapi bisa jadi juga sebaliknya: saya akan semakin jauh, merujuk pada point kedua di atas.
Kelima: mungkin bisa juga mengganggu iman saya.
Jadi, saya memutuskan untuk tidak menuruti nafsu yang satu ini. Meskipun saya sangat ingin. Dan hal ini membuat dada saya sesak, saya serasa ingin menangis.
Tapi, Aniki membuat saya sedikit tersenyum dengan pilihan saya ini. Ya. Beliau bilang, bahwa pilihan saya adalah tepat untuk saat ini.
Dan saya akan segera melupakan kesedihan.
-mks. April 10, 2012-
Pagi tadi, saya mendapat SMS dari seorang Abang. Isinya tentang tersedianya lowongan pekerjaan bagi reporter atau camera person di salah satu stasiun televisi.
Jelas saja saya mupeng!
Ya. Saya sebenarnya sangat ingin memiliki perkerjaan sejenis itu. Saya suka dunia itu. Karena saya tidak suka jadi PN* yang notabene adalah pilihan sejuta ummat orang tua.
Tapi…
Saya tidak bisa mengikuti wawancara itu.
Pertama: saya harus fokus dulu untuk mengerjakan skripsi. Saya harus sarjana secepatnya. Melamar ke pekerjaan itu pasti akan membuat “nama lengkap” saya tertunda.
Kedua: karena di stasiun teve itu ada seseorang yang sekarang saya hindari. Saya tidak ingin semakin dekat dengannya. Saya tidak ingin membuat hati saya ternoda dan hati dia terluka.
Ketiga: saya tak boleh bekerja dan menjadi bagian dalam stasiun teve itu. Sebisa mungkin. Alasan ini, cukup rahasia bagi saya.
Keempat: bekerja disana, bisa saja membuat saya semakin dekat dengannya (orang yang beberapa waktu ini mengganggu hati saya). Tapi bisa jadi juga sebaliknya: saya akan semakin jauh, merujuk pada point kedua di atas.
Kelima: mungkin bisa juga mengganggu iman saya.
Jadi, saya memutuskan untuk tidak menuruti nafsu yang satu ini. Meskipun saya sangat ingin. Dan hal ini membuat dada saya sesak, saya serasa ingin menangis.
Tapi, Aniki membuat saya sedikit tersenyum dengan pilihan saya ini. Ya. Beliau bilang, bahwa pilihan saya adalah tepat untuk saat ini.
Dan saya akan segera melupakan kesedihan.
-mks. April 10, 2012-
Rabu, 11 April 2012
Aitakute, aitakute!
Hiks.
Saya sangat ingin bertemu denganmu saat ini.
Tidak untuk berkata-kata atau bercerita.
Saya hanya ingin melihatmu.
Memandang senyummu yang lucu itu.
Memandang wajahmu yang tak pernah membuatku bosan.
Atau melihat tingkahmu saja.
Atau melihat kamu yang sedang berjalan.
Atau melihatmu yang tiba-tiba menyapaku.
Atau melihat tanganmu yang tersodor ke arahku, memberikan sesuatu.
Atau mendengar suaramu memanggil namaku.
Atau mendengarmu yang bertanya sesuatu padaku.
Atau melihatmu yang sedang mengiringiku berjalan.
Atau melihatmu yang sedang diam-diam memandangku.
Atau melihatmu berdiri di depanku –yang sedang terduduk di sebuah kursi.
Atau melihatmu yang sedang menoleh ke arah jalanan.
Atau melihatmu yang terlalu serius melihat sesuatu.
Atau melihatmu yang sedang memegang microphone.
Huwaaa..!
Aitakute!
Aitakute!
Anata wa ima doko desu ka?
Daijoobu ka?
Saya sangat ingin bertemu denganmu saat ini.
Tidak untuk berkata-kata atau bercerita.
Saya hanya ingin melihatmu.
Memandang senyummu yang lucu itu.
Memandang wajahmu yang tak pernah membuatku bosan.
Atau melihat tingkahmu saja.
Atau melihat kamu yang sedang berjalan.
Atau melihatmu yang tiba-tiba menyapaku.
Atau melihat tanganmu yang tersodor ke arahku, memberikan sesuatu.
Atau mendengar suaramu memanggil namaku.
Atau mendengarmu yang bertanya sesuatu padaku.
Atau melihatmu yang sedang mengiringiku berjalan.
Atau melihatmu yang sedang diam-diam memandangku.
Atau melihatmu berdiri di depanku –yang sedang terduduk di sebuah kursi.
Atau melihatmu yang sedang menoleh ke arah jalanan.
Atau melihatmu yang terlalu serius melihat sesuatu.
Atau melihatmu yang sedang memegang microphone.
Huwaaa..!
Aitakute!
Aitakute!
Anata wa ima doko desu ka?
Daijoobu ka?
Langganan:
Postingan (Atom)
