Jumat, 12 September 2014

Menatap Gelap



Malam ini seorang perempuan ingin sendiri. Sesuatu yang mengusik kepala telah membuat ia melangkah menuju tempat yang sepi. Jauh dari kota. Jauh dari lampu dan cahaya malam yang selalu akrab dengannya. Mungkin juga jauh dari dirinya sendiri.

It's not going well, rintihnya. Sesuatu membuatnya berpikir keras. Ini tentang harapan yang ia lambungkan jauh ke angkasa. Telah banyak kata yang ia terbangkan ke dinding langit. Tapi belum juga mendapat balasan. Dan kemudian ia menyadari, bahwa harapan yang terlalu tinggi, tak pernah selalu baik.

Maka ia duduk disini. Di kegelapan padang rumput, yang tak terlihat oleh sesiapa. Laiknya yang putus asa, ia memeluk lutut, menatap langit yang seolah pelit menampakkan gemintang. Bahkan langitpun kosong. Rupanya alam seperti memahami apa yang ia rasakan.

Lalu beberapa bayang seolah berkelebat di depannya. Memori tentang kebersamaan, senyum dan kegembiraan, datang membesarkan hatinya, membentuk mozaik indah di kegelapan langit. Maka beberapa jenak, ia lupa akan hal yang membawanya ke kesunyian ini.

Dan saat ia tak menyadari bahwa ia tengah tersenyum, satu kata muncul dalam benaknya, menghadirkan rasa yang sesegera mungkin ingin ia resapi detik itu juga:



pulang.

Minggu, 13 Juli 2014





KEPADA BOCAH-BOCAH PALESTINA: AHMAD, FATIH, YASIR DAN FAZA

Assalamualaykum, adikadikku sayang. Apa kabar kalian? Masihkah bersetia dengan batu dan katapel? Masihkah terjaga oleh bombardir, sementara kalian sedang belajar menghitung di sekolah? Masihkah puluhan drone mengintai, sementara kalian sedang belajar mengeja nama kalian masing-masing?

Terasa pilu, adikku. Kami dengar perang dibangkitkan kembali oleh biadab Israel. Sesungguhnya kami tak menyangka ini akan terjadi saat begini: kenapa harus di bulan puasa?

Bukankah di bulan ini seharusnya kalian tengah mempersiapkan bekal terbaik menuju akhirat? Bukankah kalian harusnya tengah khusyuk mengaji atau menghafal Alquran dalam kesakinahan? Bukankah kalian harus gembira menyambut malam-malam Nuzulul Quran dan I’tikaf? Bukankah harusnya menggigit kurma itu menjadi nikmat dengan kehadiran senyum keluarga kalian?

Tapi, seberapa terkutukkah Yahudi Israel itu, adikadikku? Seberapa biadabkah kumpulan orang yang mengirimkan bom, rudal, pesawat tak berawak untuk memata-matai manusia-manusia tak bersalah?

Seberapa terlaknatkah Yahudi Israel yang memporakporandakan rumah sakit, rumah tahfidz, sekolah, lalu menyebabkan tumpahnya airmata dan darah di tubuh-tubuh mungil kalian?

Tapi, sebegitu muliakah kalian, wahai Ahmad, Fatih, Yasir, dan Faza? Hal mulia apa yang telah kalian lakukan hingga syahid begitu mudah kalian raih -hingga kalian begitu cepat menuju Alloh Azza wa Jalla?

Maka maafkan kami, Yaa Ahmad!
Maafkan kami yang sibuk dengan anakanak kami, memberikan mereka pakaianpakaian serba bagus dan mahal, menyekolahkan mereka di sekolah bergengsi; sementara kau sibuk belajar bagaimana cara melempar batu agar tepat mengenai kepala para biadab itu!

Maka maafkan kami, adik Fatih!
Berdosalah kami yang terlihat sok membelamu, menyebut namamu ketika pencalonan presiden semata untuk pencitraan di depan media; sementara kau, tak ada yang tahu bahwa kau lelah berlari, nafas sisa kurang dari separoh, hanya untuk menghindar dari serangan bom!

Maka maafkan kami, wahai Yasir!
Maafkan kami yang lalai mengingatmu dan mendoakanmu dalam shalat kami, kami lupa dengan status kalian sebagai saudara seiman yang harus dibantu tanpa pamrih.

Maka maafkan kami, adinda Faza!
Maafkan kami yang tak memberi perhatian lebih ketika berita tentangmu muncul di televisi, sementara kami segera mengganti channel untuk menonton real count atau Piala Dunia dan jika ada yang bertanya ‘Apa yang telah kau berikan untuk Palestina?’ kami enteng menjawab ‘Hei, itu bukan urusan saya!’

Lalu di antara semua itu, kudengar kalian lantang berkata:
'Hei, Yahudi Israel terlaknat!
Tembak-tembakilah kebun kami!
Hancur-hancurkanlah rumah kami!
Roboh-robohkanlah masjid kami!
Sebab dada kami masihlah terlampau luas untuk menampung peluru-pelurumu…'

(Uswatun Hasanah Musa, 11 Juli 2014)




Minggu, 15 Juni 2014

Suara untuk Ayah

Pagi ini hujan di kotaku, Ayah. Langit kelam. Semoga itu bukan gambaran keadaan kita. Ayah, apa kabar? Sudah lama aku tak menulis surat untukmu.

Bagaimana kabar kesehatanmu, Ayah? Aku dengar kau terbaring di kamar beberapa waktu lalu. Ibu berkata bahwa tekanan darahmu naik lagi. Tahukah aku khawatir disini? Meski seperti biasa, betapa angkuhnya aku tak pernah menunjukkan kepedulian untukmu. Maafkan aku, Ayah. Beginilah aku, tak bisa berkata bahwa aku sayang padamu, tak bisa berkata bahwa aku rindu padamu, tak bisa berkata bahwa sampai kapanpun aku tak ingin kau tiada, tak bisa berkata bahwa aku tak sanggup jika tak pernah bisa melihatmu lagi. Bagimu, mungkin aku anakmu yang angkuh, Ayah. Tapi yakinlah, tak pernah ada yang bisa mencintaiku sepertimu. Maka kau adalah lelaki pemilik hatiku selamanya.

Ayah...
Menurutmu apakah arti cobaan dalam hidup? Apakah itu sebagai karma atas segala keburukan yang pernah kita lakukan? Tapi seperti pesan yang pernah kau titipkan, aku berusaha untuk selalu berbuat baik pada semesta. Lalu, kenapa cobaan tetap ada? Apa untuk menguji kekuatan manusia? Tapi, Ayah, jika memang begitu, sepertinya aku sedang tidak sanggup menghadapi ini. Seandainya kau ada bersamaku disini, Ayah, mungkin aku akan tegar. Karena matamu, bau tubuhmu, dan suaramu adalah penggugah setiap saat.

Lalu kenapa aku harus merantau, Ayah? Kenapa aku harus ingin jauh darimu? Kenapa kau begitu rela membiarkanku sekolah jauhjauh?

Barulah aku mengerti. Rupanya kau tak ingin anak perempuanmu ini menjadi "kerdil" di tanahnya sendiri. Barulah aku sadar, aku harus melihat dunia. Aku harus berjalan, menjejakkan kebaikan. Begitu maksudmu.

Dan aku teringat kembali tentang masa kecil. Tentang kau yang mengajakku ke sawah kita -meski pagi belum tiba. Disana kau menunjuk Si Bintang Timur di atas langit. "Itu Venus, Nak. Ia salah satu planet di tata surya." Pekan berikutnya, kau mengajakku ke sawah lagi, dan kau menunjuk ke arah selatan. "Itu rasi bintang selatan. Bentuknya seperti lelayang tak sempurna." Malam yang lain, kau menunjuk langit di arah barat. "Lihat rasi itu. Mirip alat yang Ayah pakai di sawah tadi, kan?" Ah, Ayah. Segala hal tentang langit kau ajarkan padaku. Betapa kuat semua ingatan itu. Serupa alarm agar aku tak tersesat kemanapun aku pergi. Maka sejak saat itu, bagiku langit adalah pelukanmu.

Akupun ingat, sewaktu kecil, kau selalu membawa pulang puluhan buku sebagai bacaanku. Maka kau akan melihat, sepulang sekolah, aku yang masih berseragam lengkap telah bergumul dengan bukubuku. Dan kau akan tertawa karena melihat ibu yang setengah mati mengajakku makan siang saat aku asyik bersama buku. Begitulah caramu agar "mengikatku", agar terjauh dari pengaruh buruk di luar rumah.

Aku ingat, saat aku lama terbaring sakit, kau tak pernah menampakkan wajah sedihmu. Tapi aku tahu, kau sekuat tenaga menahan airmata, karena aku melihat dari matamu yang mulai memerah. Aku tahu, kau tak kuasa ketika kau membantuku berjalan lagi sambil berkata, "Ayo, Nak. Coba lagi. Jangan takut, Ayah disini. Ayo melangkah. Agar kakimu tak kaku karena terlalu lama di tempat tidur." Ah, Ayah. Mungkin begini caramu mengajariku sewaktu kecil?

Ayah...
Aku pernah bertanya dalam hati, kapankah seorang anak bisa lepas dari orangtua? Dan itu akhirnya terjawab berkat cintamu, Ayah. Pernah suatu kali, kau menelpon dari kampung. "Kau baikbaik saja, Nak?" Kujawab, ya. "Dua pekan lalu, Ayah bermimpi kau sakit. Benar itu?" "Ah, Ayah terlalu khawatir. Aku sehat, Ayah." Sebegitukah kuatnya telepati ayah dan anak? Maaf, Ayah. Waktu itu aku berbohong. Benar bahwa saat itu aku masuk UGD sebuah rumah sakit. Aku tak mengabarkan karena takut kau khawatir. Jika berbohong itu baik, maka telah kulakukan. Karena aku menyayangimu. Sangat menyayangimu.

Ayah, sesungguhnya aku sedang rindu. Aku ingin pulang. Aku ingin membawa beberapa kisah padamu. Tapi bisakah kuceritakan semua itu? Ah, Ayah. Kenapa kita berdua diciptakan sama? Kenapa kita tak bisa mengutarakan isi hati kita? Aku selalu ingin kau tahu apa yang ada di kepalaku. Akupun tahu kau begitu, ibu pernah berkata padaku tentang itu. Lalu siapa yang akan menyatukan isi kepala kita?

Ayah...
Musim berganti. Sudah bertahuntahun aku jauh darimu, dan rindu tak pernah jauh untukmu. Maafkan segala kesalahan dan ketidakenakan hati yang kusebabkan. Betapa bodohnya aku jika melukai hati lelaki sepertimu. Durhakalah aku jika menceritakan keburukanmu pada orang lain. Ah, keburukan apa pula yang harus kuumbar? Karena itu tak pernah ada.

Maka, Ayah, maafkan anakmu ini. Percayalah, anakmu ini mencintaimu. Aku menyayangimu, Ayah. Dan terimakasih atas hidup yang telah kau antarkan padaku. Terimakasih, Ayah. Terimakasih sebanyak bintang...

Selasa, 10 September 2013

Ini harus dituliskan





Tapi ini bukan tentangmu, sayang. Percayalah, betapapun, apapun yang terjadi, aku tak akan menuliskan keburukanmu –yang sesungguhnya tak pernah ada.


***


Andai saja kita berteman di facebook, akan kutandai catatan ini untukmu. Kita saling mengenal, tapi entah kenapa, dulu, saya enggan sekali meng-klik “Tambah Sebagai Teman” di akunmu. Barulah saya sadari sekarang bahwa keadaan ini bagus juga. Kita tak perlu berteman lebih jauh. Karena kita tak bisa.


Kita bertemu bisa dihitung sebanyak jari tangan. Tak sering. Tapi saya tahu tentang kisahmu. Saya tahu tentang lelaki yang hidup denganmu sekarang. Saya tahu bagaimana lakilaki itu resah sebelum akhirnya bertemu denganmu. Saya sangat tahu, karena rupanya Tuhan membuat kami bertemu untuk menceritakan tentangmu. Saya juga tahu tentang kau di malamyang membuatmu menunggu lelaki itu. Ah, sesungguhnya saya pernah menuliskan sesuatu tentangmu: waktu itu saya tak menyukai hal yang kau lakukan.


Well, saya menulis ini bukan untuk menyesali hal yang baru saja terjadi. Sudah saya katakan, ini tak ada kaitannya dengan itu. Tahukah, kau terlalu “menyedihkan” untuk disesali? Toh saya tidak akan menyesali apapun. Catat itu!
Rupanya kau tak seperti yang saya bayangkan. Saya kira kau hebat. Setidaknya, sekarang saya tahu lebih jauh tentang dirimu. Tak usahlah kusebutkan berapa banyak kesalahanmu, kecuali satu: kau mengira mengenalku. Kau mengira bisa menentukan bagaimana hidup saya, seperti yang terjadi pada hidup orang lain. Sekali lagi saya tegaskan, kau tidak mengenal saya!



***


Anda membenci saya? Izinkan saya tertawa dulu.


Anda juga sangat menyedihkan. Saya tak seperti yang anda kira. Okelah, silakan membenci saya. Tapi yang saya ingin sampaikan adalah: saya adalah pembenci terhebat bagi diri saya sendiri.
Seandainya membenci adalah perlombaan, maka percayalah bahwa ANDA TELAH KALAH SEBELUM ANDA MENDAFTAR LOMBA ITU.

Jumat, 01 Februari 2013

Catatan Tanpa Tanda

Saya mengherani diri saya, malam ini. Sesuatu yang tidak biasa bagi saya, setelah saya sadari, bahwa saya membelah malam ini tanpa sebuah jaket. Sungguh saya heran, apalagi ketika saya menyadari bahwa saya tidak kedinginan. Tak seperti biasa. Sekiranya saya akan mendapatkan sesuatu yang saya inginkan malam ini. Seharusnya saya akan tersenyum bangga malam ini. Setelah menemuinya, di jalan poros itu, saya berpamitan sembari memohon doanya untuk saya. Yeah, doa dia dan keinginan saya tidak terwujud.
Selanjutnya, saya menyandarkan diri di sebuah pos jaga yang temaram. Saya menunggu ponsel saya berdering, terserahlah tanda dari sesiapa. Saya menunggu, tapi ponsel saya tak berdering juga. Lalu dari kegelapan sana, muncul seekor anjing berbulu keemasan, menatap saya. Tapi saya merasa, tatapan itu justru tantangan. Maka saya lawan tatapan itu. Sialnya, anjing itu menjulurkan lidah seolah bertanda “You are a loser!”. Ha!, tak tahukah bahwa justru ialah pengecut yang berjalan ketakutan dengan lidahnya yang terjulur menjijikkan. Well, saya sepertinya mulai ngawur… Tapi disaat saya ingin serius dengan sebuah bacaan, di bawah temaram, seekor anjing lain muncul, bulunya hitam, menggonggong ke arah saya. Sial! Disinilah baru saya sadari kodrat saya: SAYA TAKUT ANJING! Lalu saya memutuskan untuk tidak menunggu, lalu mengambil kunci motor, lalu mengintip pintu rumah itu sekali lagi, lalu pergi… Rupanya di jalan yang sekiranya bernama pulang, hujan mulai gerimis…dan menderas.
Di atas motor, saya berpikir akan ke sebuah tempat entah kemana. Tapi rupanya saya (tetap saja) menuju rumah. Hujan terasa bersemangat, dan pandangan saya malam ini tidak bisa menjangkau lebih dari dua meter di arah depan sana. Barulah saya sadari (lagi), tanpa jaket saya tidak merasa kedinginan, meski saya kehujanan! Luar biasa benar malam ini bagi saya! Lucunya, saya tidak beranjak menancap gas lebih cepat dan justru menikmati hujan yang tidak dingin ini. Saya mencoba berpikir tentang apapun, termasuk kenapa saya tidak kedinginan.
Tapi, akhirnya pikiran saya bermuara pada satu: KITA. Bahwa benarlah kita tak melandasi senyum, belaian dan pelukan dengan sebenarnya cinta. Kita tak bisa (mau dan) saling memercayai, saling berbagi, seperti yang sepatutnya. Apakah sesungguhnya makna diri kita bagi kita? Ah, saya merasa ingin dihujani lagi malam ini. …………………………………. (Sampai sekarang, ponsel saya belum juga berdering. Saya tetap menunggu)

Jumat, 31 Agustus 2012

Atun no Haiku (1)



sore ini
sekelebat petir,
namamu

Rabu, 25 April 2012

Dengan mata, saya memeluk punggungnya

Baru kali ini saya memimpikannya. Saya juga tidak tahu kenapa. Padahal saya tidak ingin bermimpi tentang dia.

Saya pernah bermimpi tentang beberapa orang.

Orang pertama, saya sering memimpikannya. Wajahnya sangat jelas terlihat. Ya. Dia orang yang sering saya jumpai, sengaja atau tidak. Kami sangat dekat. Saya senang memimpikannya. Tapi saya harus bersedih karena saat ini dia tidak berada di dekat saya lagi. Bahkan saya sudah tidak pernah bertemu dengannya.

Orang kedua, saya memimpikannya dua kali. Padahal baru sekali kami berjumpa. Mimpi tentang orang ini adalah sesuatu yang luar biasa. Saya ketakutan karena mimpi itu. Hingga kemudian, membuat saya takut untuk bertemu dengannya. Saya berharap, tidak ada sesuatu yang mengharuskan saya untuk bertemu lagi dengan orang ini.

Nah, ini tentang orang yang baru saja ada dalam mimpi saya. Dalam mimpi itu, saya senang bertemu dengannya. Tapi entahlah, ada yang aneh. Saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Bahkan ketika orang ini berhadapan dengan saya. Yang terlihat jelas justru punggungnya. Saya masih ingin melihat dia, berbincang lebih lama. Tapi dia terlihat buru-buru pergi. Seperti biasa, ada sesuatuyang harus dia lakukan. Saya hanya bisa menatap punggungnya menjauh, dia dengan pakaian yang (mungkin) biasa dia kenakan.

Saya mencoba menafsirkan mimpi ini. Mungkin.

Pertama, bisa berarti, “Belum saatnya kau melihatku lebih lama. Aku harus pergi untuk sementara. Sampai kau menyelesaikan sesuatu yang harus kau selesaikan. Karena itu, tak perlu bersedih”

Atau bisa saja yang paling buruk, “Seberapa inginpun kau melihatku, memikirkanku, mengingatku, hal itu tidak akan terjadi…”


-mks.25april2012-

Sabtu, 21 April 2012

Something bothered me

Entah kenapa saya memikirkan satu hal ini. Berbagai peristiwa beruntun, menyerupai bayangan-bayangan singkat, berkelebat di benak saya. Saya sedikit ketakutan.
Semoga ini hanya kekhawatiran saya saja. Saya tidak ingin ini benar-benar terjadi kelak.

Siapapun kamu, saya ingin mengatakan bahwa beginilah saya. Saya yang sangat suka bicara. Saya yang sulit menetapkan hati. Saya yang terlalu apa adanya. Saya yang selalu ingin menjadi diri saya sendiri. Semoga kamu bisa memahami saya.

Well, saya tidak bisa sendiri selamanya…

Senin, 16 April 2012

Mengubur mimpi dan… cinta

Ternyata begini rasanya.

Pagi tadi, saya mendapat SMS dari seorang Abang. Isinya tentang tersedianya lowongan pekerjaan bagi reporter atau camera person di salah satu stasiun televisi.

Jelas saja saya mupeng!

Ya. Saya sebenarnya sangat ingin memiliki perkerjaan sejenis itu. Saya suka dunia itu. Karena saya tidak suka jadi PN* yang notabene adalah pilihan sejuta ummat orang tua.

Tapi…

Saya tidak bisa mengikuti wawancara itu.

Pertama: saya harus fokus dulu untuk mengerjakan skripsi. Saya harus sarjana secepatnya. Melamar ke pekerjaan itu pasti akan membuat “nama lengkap” saya tertunda.

Kedua: karena di stasiun teve itu ada seseorang yang sekarang saya hindari. Saya tidak ingin semakin dekat dengannya. Saya tidak ingin membuat hati saya ternoda dan hati dia terluka.

Ketiga: saya tak boleh bekerja dan menjadi bagian dalam stasiun teve itu. Sebisa mungkin. Alasan ini, cukup rahasia bagi saya.

Keempat: bekerja disana, bisa saja membuat saya semakin dekat dengannya (orang yang beberapa waktu ini mengganggu hati saya). Tapi bisa jadi juga sebaliknya: saya akan semakin jauh, merujuk pada point kedua di atas.

Kelima: mungkin bisa juga mengganggu iman saya.

Jadi, saya memutuskan untuk tidak menuruti nafsu yang satu ini. Meskipun saya sangat ingin. Dan hal ini membuat dada saya sesak, saya serasa ingin menangis.

Tapi, Aniki membuat saya sedikit tersenyum dengan pilihan saya ini. Ya. Beliau bilang, bahwa pilihan saya adalah tepat untuk saat ini.
Dan saya akan segera melupakan kesedihan.


-mks. April 10, 2012-

Rabu, 11 April 2012

Aitakute, aitakute!

Hiks.
Saya sangat ingin bertemu denganmu saat ini.
Tidak untuk berkata-kata atau bercerita.
Saya hanya ingin melihatmu.
Memandang senyummu yang lucu itu.
Memandang wajahmu yang tak pernah membuatku bosan.
Atau melihat tingkahmu saja.
Atau melihat kamu yang sedang berjalan.
Atau melihatmu yang tiba-tiba menyapaku.
Atau melihat tanganmu yang tersodor ke arahku, memberikan sesuatu.
Atau mendengar suaramu memanggil namaku.
Atau mendengarmu yang bertanya sesuatu padaku.
Atau melihatmu yang sedang mengiringiku berjalan.
Atau melihatmu yang sedang diam-diam memandangku.
Atau melihatmu berdiri di depanku –yang sedang terduduk di sebuah kursi.
Atau melihatmu yang sedang menoleh ke arah jalanan.
Atau melihatmu yang terlalu serius melihat sesuatu.
Atau melihatmu yang sedang memegang microphone.
Huwaaa..!
Aitakute!
Aitakute!
Anata wa ima doko desu ka?
Daijoobu ka?

Kamis, 29 Maret 2012

Akun facebook saya




Tepat malam ini, saya “mematikan” akun facebook saya. Sebenarnya saya sangat tak ikhlas. Secara, saya sudah cukup sangat terkenal di dunia maya yang satu itu. Ha!
Tapi cuma untuk sementara, kok.

Alasannya?

Sebuah komentar seseorang yang penting dalam hidup saya, memengaruhi keputusan ini. Saya sedikit ketakutan. Saya takut sesuatu yang tidak saya inginkan terjadi. Thus, saya pergi meninggalkan teman-teman yang saya cintai itu. Sementara. Sampai sesuatu yang telah saya mulai diselesaikan dengan baik dan sempurna.

Selain itu? Sebuah foto dirinya (yang di-upload di facebook) membuat saya tidak tidur semalaman tadi. Dia berada dalam satu bingkai bersama seorang pejalan kaki. Well, SAYA CEMBURU! Ya ampun, padahal rasa itu sangat tak wajar. Karena saya tahu, dia pasti hanya bercanda dengan foto itu. Saya yakin. Saya tahu, dia dan pekerjaannya memang membutuhkan banyak humor dan hiburan agar tak stress. Saya tahu, tugasnya sangat banyak. Bahkan sampai harus keluar daerah berkali-kali. Saya tahu! Saya tahu! #stress

Tapi mau gimana lagi? Saya terlanjur cemburu. Dan itu susah saya hapus.
--------------

Saya paham sekali dengan sesuatu seperti ini: pilihan. Ya. Saya memilih jalan ini untuk sementara. Sampai semuanya baik-baik saja, karena sekarang keadaan di sekitar saya tidak sedang baik-baik saja.

Karena itu, teman-teman bisa menjumpai saya di dua akun blog saya. Disini saya akan lebih sering berkunjung, bercerita tentang semuanya.

“Kadang, kita harus meninggalkan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu” ~Anonim~

“Temui cinta… Lepaskan rasa…” ~Iwan Fals ft. Padi “Sesuatu yang Tertunda”~

-mks.29/03/2012-

Jumat, 02 Maret 2012

Kenapa hitam?

Saya menulis ini karena terpikir setelah membaca tulisan seorang teman (blogger) beberapa saat lalu. Well, tentang teman yang ini, saya tidak menyangka bahwa dia senang menuliskan pengalaman-pengalamannya di wordpress-nya. Itupun, saya mendapatkan alamat blog-nya itu dari twitter-nya. *tetooot! terlalu banyak kata “nya” dan “”itu”

Nah, di blog itu, tertulis tentang Filosofi Hitam versi dia. Dari situ, saya juga baru menyadari bahwa dia memang benar-benar menyukai hitam. Saya juga baru menyadari, selama saya berteman dengannya, hampir setiap bertemu, dia selalu memakai baju warna hitam. Betapa dia menyukai hitam. Dan filosofi hitam menurut dia, sangat menarik bagi saya. *standing applause

Hmm. That’s why I love blog so much. Di blog, saya bisa menemukan sisi lain dari orang-orang: para blogger, dan orang-orang yang mereka ceritakan atau mereka umpat. Di blog, saya juga mengira bahwa mereka adalah orang-orang yang cerdas. Sungguh. *angguk-angguk segala *serius nih

Kembali ke judul tulisan kali ini. Ya. Kenapa hitam?

Saya menyukai warna hitam. Entah sejak kapan. Entah juga karena apa.
Hal ini bisa dibuktikan dengan tingkah saya yang tiba-tiba terhenti sejenak dari aktivitas (berjalan, berlari, dsb) ketika melihat sesuatu berwarna hitam. Melihat segala aksesoris berwarna hitam, atau spanduk, atau poster, membuat mata saya seperti keranjang.

Dulu, beberapa tahun lalu, tiga-empat hari sepekan, pakaian saya pasti dominan hitam. Dan saya merasa nyaman dengan itu. Meski suasana lagi panas-panasnya, saya ngotot berpakaian hitam. Tapi, sekarang tidak begitu-begitu amat. Sekarang saya sudah sedikit terbuka dengan warna lain: merah, jingga, biru, putih. KECUALI PINK!

Kemarin saja, sewaktu memilih baju bersama Yuna, saya berusaha sekuat tenaga untuk menolak warna hitam. Apalagi waktu Yuna bilang, “Yang ini mo (*nunjuk warna lain). Capek ka liat ko pake hitam terus.” Dan akhirnya saya memilih warna lain, tapi tetap saja nuansa gelap. LOL

Teman saya bilang, filosofi hitam itu:
bisa masuk di lingkungan manapun…
bisa bergaul dengan siapapun…
bisa berinteraksi dengan berbagai macam karakter…
bisa diterima oleh berbagai macam komunitas

Dan saya sangat suka dengan pendapatnya itu. Saya juga sepakat dengannya.

Tapi saya juga punya pemikiran sendiri tentang hitam.

Hitam itu kejujuran yang paling jujur
Hitam itu rahasia yang tidak ada seorangpun yang mengetahui
Hitam itu sisi yang tidak bisa terjamah
Hitam itu sesuatu yang tidak bisa dibagi dengan siapapun
Hitam itu apa adanya, meski orang lain berkata hal yang berbeda
Well, black is rebel


*senyum (sok) bijak

Nah, itulah hitam menurut saya. Dan dengan membaca ini, teman-teman mungkin sudah bisa “membaca” saya.

*wink
#blush
*disappearing

Minggu, 26 Februari 2012

Hiccup

Saya merasa terdesak. Dan tersedak pada masa yang bersamaan.

Selasa, 14 Februari 2012

Menabrak!

Ya. Kemarin saya nabrak!

Hal ini baru sekali saya rasakan, dan mudah-mudahan memang hanya kali ini. Entah kenapa itu bisa terjadi. Saya juga bingung.

Yang jelas, kemarin itu, emosi saya memang lagi kacau. Saya tidak bisa berpikir fokus menyetir motor, hanya suara lagu yang saya dengar dari ponsel saya.

Di depan saya, sebuah mobil terparkir dengan pintu yang sedikit terbuka. Mobil itu ada di sebelah kiri jalan. Saya mengira, pintu mobil itu tidak akan terbuka lebih lebar lagi. Rupanya, sesaat setelah saya tetap berada di sampingnya, pintu itu terbuka, dan... braaakkk! Setir kiri motor saya menabraknya!

Well, saya sebenarnya ingin meminta maaf saat itu juga. Tapi, saya benar-benar sangat terburu-buru untuk bisa tiba di sekolah (Ya. Saya hampir telat 1 jam untuk ngajar ekskul menulis). Jadinya, saya hanya mengucap istighfar dan maaf dalam hati. Mudah-mudahan si empunya mobil memaafkan saya ya. Dan semoga plat motor saya tidak diingat beliau sampai mati. Aamiin. :)

Minggu, 29 Januari 2012

Aku suka, tapi...



Ya. Aku menyukainya.

Dengan senyumnya. Dengan kelucuannya.
Aku merasa cocok dengan ciri seperti itu.


Tapi...

Jika dia menjadi pribadi yang suka dengan hal-hal "kotor", aku tidak bisa menerimanya.

Mungkin tulisan tentangnya hanya cukup dua saja (ditambah dengan yang satu ini). Ya. Cukup.

Senin, 19 April 2010

Falling In Love At a Coffee Shop (Landon Pigg)

I think that possibly
Maybe I'm falling for you
Yes There's a chance that I've fallen quite hard over you

I've seen the paths that your eyes wander down
I want to come too

I think that possibly
Maybe I'm falling for you

No one understands me quite like you do
Through all of the shadowy corners of me

I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew

I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew

I think that possibly
Maybe I'm falling for you
Yes there's a chance that I've fallen quite hard over you

I've seen the waters that make your eyes shine
Now I'm shining too

Because
Oh
Because I've fallen quite hard over you

If I didn't know you I'd rather not know
If I couldn't have you I'd rather be alone

I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew

I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew

All of the while
All of the while
All of the while it was you, you!



-EZ (I like this song and video very much! It feels like me!)

Minggu, 18 April 2010

Kau Bersama Cahaya

kemilau menyilaukan menghampiri dua bola hitam cokelatku: baru aku tahu, sinar itu adalah senyummu

jenak memberi kita wahana

aku selalu mengagumi sinarmu
aku selalu mengagumi bijakmu
aku selalu mengagumi warnamu

Kau adalah Cahaya!

jenak memberi kita batas

aku tak lagi melihatmu cahaya: senyummu tak lagi kemilau

kau datang, memilih hitam pada gelap dan malam: aku!
aku masih butuh cahaya

tak kau berikan itu padaku (lagi) kini



-EZ

(.)

satu titik saja cukup!

tak usah memberi alasan; aku tak butuh itu

aku hanya ingin pergi...
:jangan menyusulku


-EZ

Sabtu, 17 April 2010

DIALOGIKA SEBUAH CERITA

DIALOGIKA SEBUAH CERITA
Oleh: El Zukhrufy*


“Jangan pergi!”
“Kenapa?”
“Pokoknya, jangan pergi. Kumohon”
“Apa alasannya?”
“Tidak ada. Aku hanya ingin kau tetap disini”
“Memangnya siapa kamu? Kenapa kau menahanku untuk tetap disini?”
“Aku memang bukan siapa-siapa”
“Kau hanya fiktif. Tidak lebih!”
“Ya. Aku hanya tokoh dalam ceritamu. Aku hanya ada dalam imajinasimu. Tapi, bisakah kau mengikuti apa mauku sekali saja? Bukankah selama ini kau telah bebas mempermainkan perasaanku?”
“Untuk apa? Untuk apa aku mengikuti maumu? Wajar kan jika aku bebas mempermainkanmu? Aku penulis! Kau tahu itu”
“Aku sebenarnya telah bosan menjadi budak jari-jarimu!”
“Dan aku hanya ingin pergi!”
“Setidaknya kau hanya boleh mati di tanganku!”
“Heh! Bagaimana bisa? Kau hanya hasil imajinasi, tak lebih! Selama ini, aku yang mengendalikanmu!”
“Sebelum kau mati, kau harus menuntaskan semuanya. Tuntaskan cerita tentangku! Kau bertanggung jawab untuk itu!”
“Jika aku tak mau? Apa yang akan kau lakukan?”
“Kau tahu, aku tak bisa melakukan apa-apa. Kenapa kau bertanya lagi?”
“Bukankah tadi kau ingin membunuhku? Nah, silakan! Haha!”
“Kau meremehkanku!”
“Bukan begitu, Sayang. Aku hanya ingin kau realistis saja”
“Selalu begitu!”
“Kau marah?”
“Tapi, kau juga harus realistis. Kau benar-benar tak berperasaan jika menggantung ceritaku seperti ini!”
“Jadi, maumu seperti apa?”
“Sederhana saja. Tuntaskan ceritaku dan jadi bagian hidupku disini. Di dalam cerita yang kau ciptakan”
“Ah, mana bisa?”
“Aku ingin, penulisku menjadi bagian hidupku. Aku tak suka dengan tokoh yang kau sandingkan denganku. Dia terlalu jahat, kukira. Tak sedikitpun dia membuatku tersenyum”
“Bukankah dia selalu meminta maaf?”
“Tapi, aku tak menginginkan itu. Dia membuatku selalu marah! Maaf, tak cukup!”
“Kau hanya tak tahu karakternya. Sebenarnya dia tak bermaksud begitu”
“Bagaimana kau bisa tahu? Aku tak suka dengan orang yang selalu menerka-nerka”
“Karena aku penciptanya. Kau tahu kan?”
“Ya”
“Baiklah. Aku harus pergi”
“Jangan pergi!”
“Kenapa lagi, Sayang?”
“Bukankah kau harus menyelesaikan semua ini?”
“Belum waktunya. Belum saatnya. Mungkin, masalahmu hanya akan terselesaikan di langit”
“Tidak boleh seperti itu! Kau jahat!”
“Memang seperti itu, Sayang. Aku hanya bisa mengantarkan ceritamu sampai disini. Selanjutnya, itu bukan wewenangku. Dan, satu lagi. Aku tak jahat”
“Jangan pergi! Aku tak ingin kau pergi!”
“Tapi aku harus melakukannya, Sayang. Maaf!”
“Ah, kau sama sepertinya. Aku tak butuh maaf! Aku tak pernah butuh maaf darimu! Aku hanya ingin kau tetap disini! Jangan pergi. Percayalah, aku tak pernah berniat ingin membunuhmu. Hiks!”
“Jangan menangis, Sayang. Aku tak kan rela melihat air matamu jatuh. Biarkan ia tetap di mata beningmu”
“Jangan pergi. Tolong, jangan pergi. Aku terlanjur mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Aku tak ingin selalu dihantui oleh tokoh yang kau ciptakan. Aku ingin dirimu saja. Aku tak ingin dia”
“Ini bukan cinta, Sayang”
“Tidak! Ini cinta. Buktinya, aku menangis karena kau akan pergi”
“Ini hanya bagian dari rasa kehilangan. Ini bukan cinta. Percayalah! Aku lebih tahu darimu. Jangan menangis lagi. Aku harus pergi sekarang”
“…………………………….”
“Ini hanya bagian dari kisah hidupmu, Sayang…”
“Kalau begitu, matikan saja aku…”


Sedikit terinspirasi dari lagu “Ketidakwarasan Padaku; SO7”
Istiqomah Land, 18 Februari 2010, 10:11:11 Wita
*Penulis pemula yang tak ingin mati muda